Rasulullah dalam Menjaga Lisan

Dalam bulan Ramadhan selain dianjurkan untuk menjaga diri dari melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, juga dianjurkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa, terutama yang berasal dari lisan. Berikut sekelumit gambaran Rasulullah dalam berbicara, diam, tertawa dan menangis (sesuatu yang menjadi kebiasaannya tidak hanya di bulan Ramadhan) yang dimuat dalam buku Zaadul Maad karya Iman Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Rasulullah Saw merupakan manusia yang paling fasih, manusia yang mempunyai pembicaraan paling merdu dan paling manis, sehingga dapat dikatakan bahwa ucapannya akan segera diambil dengan segenap jiwa. Jika berbicara beliau berbicara dengan ucapan yang terperinci, jelas dan dapat dipahami, tidak dengan bahasa yang cepat dan tidak dapat dihafalkan. Tidak pula dengan ucapan terputus-putus dimana antara satu kata dengan kata yang lain dipisahkan dengan diam.

Aisyah ra berkata, "tidak pernah Rasulullah Saw mengucapkan dengan cepat sebagaimana ucapan cepat kalian ini, akan tetapi beliau berbicara dengan ucapan yang jelas, terperinci dan dapat dihafal oleh orang yang duduk bersamanya". (HR Tirmidzi dalam al JamiĆ¢€™ (3643), Muslim (2493), dan Bukhari (5423))

Seringkali Rasulullah Saw mengulangi suatu ucapan sebanyak 3 kali dan jika mengucapkan salam juga 3 kali. Beliau Saw banyak diam, tidak pernah bicara tanpa ada suatu kepentingan. Beliau selalu membuka dan mengakhiri sebuah ucapan dengan senyum. Senantiasa berbicara dalam ucapan yang sarat makna dan tegas. Tidak pernah berbicara dalam apa yang tidak memberikan arti bagi dirinya dan tidak akan berbicara kecuali dalam apa yang dapat diharapkan pahalanya.

Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka berkatalah yang baik atau lebih baik diam... (HR . Bukhari Muslim)

Jika beliau membenci sesuatu dapat diketahui dari raut mukanya, meski tidak terlihat keji atau berbuat keji. Tidak pula berteriak keras. Sebagian tawanya adalah senyuman. Tawa paling besar adalah jika terlihat gigi gerahamnya.

Sementara untuk tangisnya, dapat dikatakan sejenis dengan tawanya. Tanpa disertai isak dan sedu sedan serta tidak ada suara keras yang keluar, sebagaimana tawanya tidak pernah disertai gelakan, meski kedua matanya mengalirkan air mata sampai berlinangan dan di dadanya terdengar gemuruh.

Terkadang tangis itu demi rahmat dan kasih sayang kepada seorang mayit, atau rasa takut dan kasih sayang terhadap umatnya. Terkadang tangis itu karena takut kepada Allah, mendengarkan Al Qur'an yang merupakan tangis kerinduan, cinta dan penghormatan, yang diiringi dengan rasa takut dan khawatir. Ketika anaknya Ibrahim wafat matanya berlinang air mata dan menangis karena kasih sayangnya terhadap sang anak.

Beliau Saw bersabda,

Berlinanglah air mata dan sedihlah hati namun kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami. Dan sesungguhnya kam bersedih atas (kepergian)-mu wahai Ibrahim (HR Bukhari-Muslim, Abu Daud, dan Ahmad)